Jumat, 04 April 2014

AKU MENULIS LAGI, MAY BE BECAUSE OF YOU :*


AKU MENULIS LAGI, MAY BE BECAUSE OF YOU :*


Ada pesan yang tak  tersampaikan.
Rasa yang tak terungkap, rindu yang tak terjamah. 

Aku memilih berjalan dalam bayangannya, tanpa ia mengetahui. Aku memilih untuk diam-diam, menghirup udara dimana wangi tubuhnya berada. Kadang aku menoleh ke belakang, andai saja aku dapat memiliki mu. Kadang, dan hanya kadang aku merasa muaranya ada pada ku .

Aku ingat betul bagaimana cara ia tertawa. Tergila-gila pada setiap suara yang tercipta. Bahkan aku mengenalinya sebagai nada. Semuanya merdu dan mendadak seperti baru menghisap ganja dan serasa ketagihan akan semua itu.

aku ingat betul bagaimana senyum simpul itu beberapa kali berkelebat.
Saat aku DIAM.
Saat aku SENDIRI.
Saat jam tidurku tertunda,
lagi , lagi  senyum simpul itu terbawa ke alam mimpi. aku tak dapat mengendalikannya. Dan aku tersenyum di pagi hari nya.

Saat itu pagi yang biasa.
Pagi itu pagi yang teduh.
Tidak ada doa istimewa agar aku dapat melihatnya sekali saja. Namun, tiba-tiba, ada sosok yang sudah ku kenal lekat. sosok yang sudah ku hafal. sosok  yang selalu ku tunggu. aku menoleh ke belakang. Namun, seperti tidak percaya, aku melihatnya. Ia yang biasa aku cari di setiap pagi, kecuali pagi biasa itu.  Kemudian pagi ku tak lagi biasa.
Pagi ku PENUH WARNA.
Pagi ku BERGELORA.
Mempertanyakan kuasa semesta. aku masih tidak percaya. Bahkan hingga saat ini.

Saat itu, siang yang menyengat lebih ganas dari pada sengatan kumpulan lebah. Aku tersenyum dalam hati karena aku tau, sosok itu akan ku temui lagi. Hasratku kuat untuk menghampiri dan menyapa namun aku urungkan niat itu.
aku hanya melihatnya dari jarak yang dekat namun menyakitkan. aku berpikir, "AKAN KUCOBA LAGI NANTI, SAAT AKU KEMBALI, ATAU MUNGKIN LAIN KALI ".

Langkah ku secara perlahan ku seret menjauh. Namun, hatiku berat. Tak cukup rasanya bila tak mengucap setidaknya satu kosa kata sederhana. Dan aku akhirnya mengucapkannya, walau hanya dalam hatiku saja. AKU MERINDUKAN SOSOK ITU, namun tubuhku melangkah untuk berpaling.
Hatiku tak puas. Pandanganku  ku torehkan ke belakang, ke arahnya. Aku berharap sekali lagi saja, memotretnya dengan kedua mataku. Dan sosok itu datang, sorot matanya menemukanku. Dan senyumku yang ringan pun tersimpul. Dan siang itu tak lagi seganas lebah. Siraman sinar mentari, seperti air yang mengalir dan menggugah. Segar, Mengguyur hingga basah kuyup.

Saat itu senja yang polos. Senja yang mendamaikan hati seiring langkahku.
Rasa ingin bertemu. Rasa yang menyeruak. aku menahannya sekuat tenaga. Langkahku mengayun pelan. aku katakan pada hati ku "BERSABARLAH".
Langkahku menyusuri anak tangga itu satu persatu. Lalu sampai diatas. aku tersenyum dalam hati. sosok itu sangat dekat, sangat lekat. Dan aku melihatnya. Dadaku berhembus lega seperti baru menahan nafas jutaan tahun lamanya. Ia mengucap beberapa kata. Sorotnya tak surut memandangku. Sorot itu masih menuju padaku. aku membalas ala kadarnya, karena aku sibuk menahan gejolak hati yang meledak berontak. Hatiku yang berteriak ingin menggapainya, lalu menyimpan aroma tubuhnya yang lebih kuat menyanduku daripada ganja. Untungnya tak aku lakukan. Tingkahnya yang kikuk terbaca. Sungguh gejolak itu tak ingin  tertahan lebih lama lagi, untungnya beberapa saat kemudian ia melangkah pergi. Melewatiku yang setengah terpaku. Walau mungkin ia tak menyadari bahwa akupun sama kikuknya beberapa saat tadi.

Dan untuk yang kesejuta kali tersirat di otak ku
AKU DAN DIA.
Dalam situasi yang lebih sederhana. Dalam situasi penuh kendali. Dalam situasi tak terbatasi.
Aku Dan Dia Saja.
Walau sekali lagi saja, bersama, merasakan hal yang sama.

3 komentar: