Minggu, 06 April 2014

KEPRAMUKAAN SEBAGAI PENGEMBANGAN DIRI

KEPRAMUKAAN SEBAGAI PENGEMBANGAN DIRI
      Setiap tanggal 14 Agustus kita memperingati hari Pramuka. Sebagai wadah generasi muda yang suka berkarya, pramuka telah menunjukkan darma baktinya bagi perkembangan pembangunan termasuk dunia pendidikan. Tidak hanya diwujudkan dalam bentuk uniform, tetapi berbagai kegiatan social kemanusiaan dan kemasyarakatan telah menunjukkan eksistensi Gerakan Pramuka.
        Kombinasi pakaian kebesaran coklat muda dan coklat tua sudah dikenal mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bahkan lembaga kepresidenan. Berbagai even yang diselenggarakan Gerakan Pramuka menunjukkan betapa eksisnya pramuka. Tidak hanya level Nasional tetapi juga Internasional.
        Lord Boden Powell adalah Bapak Pandu Dunia. Beliau telah mendedikasikan hidupnya di dunia kepanduan. Di tingkat sekolah, kegiatan pramuka sering dijadikan kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh para siswa. Kewajiban yang sementara bertentangan dengan asas gerakan pramuka yang bersifat sukarela. Tetapi dengan melihat nilai-nilai positif yang terkandung dalam pendidikan kepramukaan, sudah sewajarnya sekolah mewajibkan kegiatan kepramukaan sebagai kegiata ekstra kurikuler wajib. Hanya masalahnya sekarang, masih eksiskah pramuka di mata anak-anak muda sekarang? Utamanya di kalangan anak-anak SD sd SMA?
        Benyanyi, bertepuk tangan, dan baris-berbaris seolah menjadi cirri khas pramuka. Cirri khas yang dianggap terlalu kuno untuk masa sekarang. Anak-anak sekolah lebih suka mengekspresikan diri mereka ke bidang yang kelihatannya lebih modern. Seperti, Pecinta Alam, paduan suara, teater, music, out bonds, dan lain sebagainya. Apalagi dengan mengikuti kegiatan seperti itu, mereka tidak terlalu dikekang dengan berbagai macam aturan, termasuk pakian uniform.
        Anak muda sekarang lebih suka kegiatan yang bebas dengan aturan-aturan yang mengikat. Lebih suka kelihatan gaul, keren, dan dengan penampilan modies mengikuti trend. Padahal untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
        Di saat sekolah memberlakukan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP), sekolah kadang bingung bagaimana mengisi kegiatan pengembangan diri. Meski akhirnya pengembangan diri itu tidak dapat diwujudkan dengan berbagai bentuk kegiatan. Tetapi bagi sekolah yang mempunyai kegiatan kepramukaan, kegiatan pengembangan diri bukan menjadi halangan. Malah jika kita cermat, di dalam kegiatan kepramukaan banyak potensi yang dikembangkan. Potensi kegiatan kepramukaan ini dapat dipilah-pilah menjadi berbagai bentuk kegiatan, ketrampilan, keahlian, dan sebagainya yang merupakan wujud pengembangan diri seorang anak.
        Berbagai bentuk pengembangan diri terrangkum dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU) baik tingkat penggalang maupun penegak. Dalam SKU sudah terdapat kurikulum kepramukaan yang harus dipenuhi oleh anggota pramuka untuk naik tingkat. Mulai kedisiplinan, kesenian, kemampuan kognitif, motorik, afektif, dan semua lengkap ada dalam SKU.
        Hanya permasalahannya, kadang di Sekolah Pembina Pramuka yang sudah memiliki kemampuan sebagai Pembina Pramuka yang sudah mendapatkan Sertifikat belum banyak. Sehingga kegiatan pramuka seringkali hanya dijadikan kegiatan refreshing. Latihan rutin, heyking dan kemah akhir tahun.
        Itulah mengapa kegiatan kepramukaan dari tahu ke tahun semakin ditinggalkan. Ikut kegiatan pramuka sekedar menggugurkan kewajiban, karena pramuka sebagai ekstra wajib. Andai saja kegiatan pramuka diberdayakan lebih efektif, bukan mustahil akan menjadi sarana yang ampuh dalam mencetak calon pemimpin yang lebih mumpuni. Tidak hanya sekedar sebagai pengembangan diri. Terlebih kegiatan kepramukaan mampu menjembatani pembentukan generasi penerus bangsa yang siap untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
        Salam Pramuka…!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar