Minggu, 06 April 2014

TRADISI TAHUNAN DI BLITAR



TRADISI TAHUNAN DI BLITAR

PROSESI SIRAMAN GONG KYAI PRADAH

Tradisi tahunan yang digelar di Blitar saat bulan Rabiul Awal (Maulid) adalah Siraman Gong Kyai Pradah. Mbah Palil, juru kunci Gong Kyai Pradah yang sudah menjabat selama 30 tahun lebih (sebagai juru kunci) mengatakan bahwa Gong Kyai Pradah merupakan sebuah senjata milik seorang Prabu bernama Kyai Bicak dari Kerajaan Mataram Surakarta (Kartosuro). Lantas, atas hukuman dari ayah sang prabu, bernama Sri Paku Buwono I, datanglah Pangeran Prabu ke Lodoyo. Saat Pangeran Prabu datang, kondisi wilayah Lodoyo tak hanya berupa hutan lebat, tetapi juga masih wingit (angker). Bahkan banyak dihuni binatang buas. Pangeran Prabu kemudian membawa pusaka kerajaan berupa sebuah gong dan empat bendhe, yang kemudian disebut sebagai Gong Kyai Pradah atau Gong Kyai Bicak. Dengan tujuh kali memukul gong itu, binatang buas di sana bisa jinak dan keangkeran Lodoyo berhasil ditaklukkan. Warga pun bisa hidup tentram dan damai.
Selang beberapa tahun kemudian, menjelang Kyai Bicak tutup usia. Dia berpesan pada istri keduanya, agar kelak senjata pusaka gong ini dijadikan pelindung warga Lodoyo dari marabahaya. Dan, harus dijaga kebersihannya dari segala bentuk kotoran.
''Tulong mbok Rondho, pusoko iki openono, sucekno saben tanggal 12 Mulud. . .'' (''Tolong pusaka ini selalu dimandikan / disucikan setiap tanggal 12 Rabiul Awal'') begitu pesan Kyai Bicak pada sang istri kedua. Seperti ditirukan Mbah Palil, 86 tahun usia beliau.
Lalu menurut Mbah Palil lagi, mulai saat itulah istri kedua Kyai Bicak setiap tanggal 12 Rabiul Awal, membersihkan pusaka bersama pasukan-pasukan Lodoyo. Namun, kini waktu pelaksanaannya terkadang diadakan sehari sebelum atau sesudah tanggal itu.
Siraman Gong Kyai Pradah diadakan di Alun-alun ibukota eks kawedanan Lodoyo yang terletak di kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Mulai beberapa hari pelaksanaan siraman, warga mulai sibuk mempersiapkan, bahkan tak ketinggalan pedagang-pedagang yang tak mau melewatkan momen ini untuk berjualan di sekitar tempat acara.
Begitu populernya Siraman Gong Kyai Pradah, membuat ribuan orang mulai bergerombolan sejak pagi hari dilaksanakannya prosesi siraman. Mereka tak hanya datang dari kota Blitar saja. Melainkan ada yang sengaja datang dari luar kota. Kehadiran mereka bukan sekedar berharap berkah air siraman gong yang konon mitos nya bisa membuat orang awet muda, namun ada yang memanfaatkan acara ini sebagai wisata budaya.




 

PROSESI NAPAK TILAS



Tradisi tahunan yang digelar di Blitar setiap 1 Muharam adalah prosesi napak tilas (jalan) dari Jugo sampai dengan Gunung Kawi. Prosesi ini dilakukan untuk memperingati perjalanan mbah jugo ke Gunung Kawi. Di tempat ini nuansa Tionghoa juga sangat kental.
Mbah Jugo yang bernama Raden Mas Iman Soedjono merupakan pengikut Pangeran Diponegoro. Ketika ada peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, maka para pengikutnya banyak yang melarikan diri, termasuk mbah Jugo bersama mbah Sujono yang melarikan diri ke Malang. Mbah Jugo mengembara sampai daerah Kesamben Blitar tepatnya di dusun Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Diperkirakan Mbah Jugo sampai di dusun Djoego pada tahun 1840. Ia ditemani oleh sesepuh Desa Sanan yang bernama Ki Tasiman. Kemudian Mbah Jugo bersama pengikutnya mbabat Jugo dan mendirikan pesanggrahan di Jugo yang sekarang lebih dikenal dengan pesanggrahan mbah Jugo. Lantas mbah Jugo bersama para pengikutya melanjutkan misinya ke Gunung Kawi, dan menetap di sana. Bahkan hingga menghabiskan usia nya di sana. Makam nya pun sekarang ada di Gunung Kawi.
Dahulu dikisahkan Eyang Jugo pernah ke daratan China. Suatu hari ia bertemu dengan seorang perempuan hamil yang kehilangan suaminya. Melihat hal ini Eyang jugo membantu ekonomi janda yang miskin ini. Sikap welas asih telah menjadi kebiasaan Eyang Jugo. Ketiak Eyang Jugo hendak kembali ke Jawa ia berpesan kepada janda itu demikian; Jika anak ini sudah besar, suruhlah ia datang ke Gunung Kawi di Pulau Jawa. Anak ini bernama Tamyang. Pada tahun 40-an datangah Tamyang ke Gunung Kawi untuk melihat makam eyang Jugo. Kedatangannya ini dengan tujuan untuk membalas jasa Eyang Jugo yang telah berbuat baik kepada ibunya.
Semenjak itu keduanya tidak berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi merubah perjuangan melalui pendidikan. Selain berdakwah kepada agama Islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serat keterampilan lainnya yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga  banyak masyarakat dari daerah Kabupaten Malang dan Blitar datang ke Padepokan mereka untuk menjadi  pengikutnya. Untuk menghormati keduanya ini setiap tahun para keturunan, pengikut dan peziarah berkunjung ke makam mereka tepatnya setiap malam Jumat Legi, dan satu Suro. Di tempatnya ini biasanya diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya.
Acara prosesi napak tilas ini sekarang bukan hanya acara untuk Juru kunci, para pengikut dan murid nya mbah Jugo. Namun sekarang banyak yang memanfaatkan acara ini, sepertibanyaknya warga sekitar yang berjualan berbagai macam makanan, bahkan baju, dan peralatan rumah tangga. Oleh karena itu banyak orang yang berbondong-bondong ke Jugo bukan hanya untuk melihat ritual-ritual yang dilakukan sebelum pemberangkatan napak tilas atau pun mengikuti napak tilas ke Gunung Kawi, namun juga untuk berbelanja. Saat Bulan Selo tersebut, beberapa kesenian Tionghoa seperti barongsai pun turut menyemarakkan.
Tidak hanya warga sekitar desa Jugo yang senantiasa hadir dalam acara napak tilas itu, bahkan orang luar desa Jugo pun seringkali hadir ke desa Jugo pada saat 1 Muharam itu untuk melihat ritual-ritual dan napak tilas.
Tujuan mereka pun sama dengan warga yang lain, mendapat berbagai berkah dari yang dimuliakan di petilasan ini. Seperti penglarisan, pengobatan, enteng jodoh, hingga gampang rejeki. Bila orang-orang Jawa melakukan ritual-ritual dalam budaya Tionghoa seperti dua orang ibu di atas, sebaliknya dengan warga Tionghoa. Mereka juga melakukan ritual yang biasa dilakukan orang Jawa, seperti membakar kemenyan dan sejenisnya. Menurut Arif seorang juru kunci tempat itu, keyakinan bahwa Eyang Djugo adalah pendatang dari Tiongkok merupakan penyebab banyaknya orang Tionghoa datang ke tempat itu. Diceritakan, semasa hidupnya Eyang Djugo pernah pergi dan tinggal beberapa lama di Negeri Tiongkok. “Karena itu ada yang menganggap bahwa Eyang Djugo adalah pendatang dari Tiongkok, bahkan sebagian mengaku sebagai keturunannnya,” ungkap Arif. HK.
Pesanggrahan mbah Jugo yang terletak di dusun Jugo, desa Sanan, kecamatan Kesamben, kabupaten Blitar hingga sekarang ini masih tetap dirawat. Bahkan juga masih dilestarikan dengan cara memperingati atau mengenang perjalanan mbah Jugo ke Gunung Kawi yang terkenal dengan ''Napak Tilas'' dan yang dilakukan setiap 1 Muharam.






Tradisi Ambengan

Penutup Puasa ala Masyarakat Blitar




 
Idul fitri selalu meriah di berbagai masjid di Blitar,Jawa Timur. Penutup Ramadhan di daerah ini tidak hanya dirayakan dengan shalat idul fitri, tetapi juga dimeriahkan tradisi yang sering disebut ambengan. Ambengan berasal dari kata ambang (Jawa) yang berarti sajian makanan lengkap terdiri dari nasi dan lauk pauk. Ambeng disedikan untuk menyuguhi tamu tu orang yang diundnng dalam upacara syukuran.
Ambengan adalah sebutan untuk prosesi syukuran kampung setelah shalat Idul Fitri. Syukuran ini tepatnya disebut dengan syukuran kampung. Penamaan tradisi ambengan dilakukan mengingat ambeng yang disajikan oleh warga dalam kegiatan tersebut.Setiap keluarga yang mampu dinjurkan untuk membawa maknan ala kadarnya ke masjid untuk dinikmati bersama selesai proses doa bersama.
Ritual ambengan dilakukan secara sederhana. Selepas shalat Idul Fithri, warga kampung berbondong berkumpul di masjid. Ritual berisi doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Doa bertujuan untuk "ngirim" atau mendoakan leluhur warga. Doa dikemas dalam tahlil bersama.
Setelah pembacaan doa, ritual dilanjutkan dengan menikmati sajian yang dibawa oleh setiap keluarga. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut serta menikmati sajian makanan dalam ambeng. Makanan disajikan secara acak, sehingga orang akan mendapatkan makanan yang dibawa oleh keluarga lain. Karena jumlah makanan yang berlipat, seusai menikmati makanan secukupnya, warga akan membawa pulang bungkusan nasi dan lauk-pauk untuk keluarga lain di rumah. Nah, biasanya dibutuhkan keahlian untuk membungkus nasi menggunakan daun pisang. Tak jarang banyak anak muda yang kebingungan membungkus nasi menggunakan daun pisang. Maklum, lebih biasa menggunakan bungkus plastik atau tempat nasi yang instan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar