TRADISI
TAHUNAN DI BLITAR
PROSESI
SIRAMAN GONG KYAI PRADAH
Tradisi tahunan yang digelar di Blitar saat bulan Rabiul Awal (Maulid)
adalah Siraman Gong Kyai Pradah. Mbah Palil, juru kunci Gong Kyai Pradah yang
sudah menjabat selama 30 tahun lebih (sebagai juru kunci) mengatakan bahwa Gong
Kyai Pradah merupakan sebuah senjata milik seorang Prabu bernama Kyai Bicak
dari Kerajaan Mataram Surakarta (Kartosuro). Lantas, atas hukuman dari ayah
sang prabu, bernama Sri Paku Buwono I, datanglah Pangeran Prabu ke Lodoyo. Saat
Pangeran Prabu datang, kondisi wilayah Lodoyo tak hanya berupa hutan lebat,
tetapi juga masih wingit (angker). Bahkan banyak dihuni binatang buas. Pangeran
Prabu kemudian membawa pusaka kerajaan berupa sebuah gong dan empat bendhe,
yang kemudian disebut sebagai Gong Kyai Pradah atau Gong Kyai Bicak. Dengan
tujuh kali memukul gong itu, binatang buas di sana bisa jinak dan keangkeran
Lodoyo berhasil ditaklukkan. Warga pun bisa hidup tentram dan damai.
Selang beberapa tahun kemudian, menjelang Kyai Bicak tutup usia. Dia
berpesan pada istri keduanya, agar kelak senjata pusaka gong ini dijadikan
pelindung warga Lodoyo dari marabahaya. Dan, harus dijaga kebersihannya dari
segala bentuk kotoran.
''Tulong mbok Rondho, pusoko iki openono, sucekno saben tanggal 12 Mulud.
. .'' (''Tolong pusaka ini selalu dimandikan / disucikan setiap tanggal 12
Rabiul Awal'') begitu pesan Kyai Bicak pada sang istri kedua. Seperti ditirukan
Mbah Palil, 86 tahun usia beliau.
Lalu menurut Mbah Palil lagi, mulai saat itulah istri kedua Kyai Bicak
setiap tanggal 12 Rabiul Awal, membersihkan pusaka bersama pasukan-pasukan
Lodoyo. Namun, kini waktu pelaksanaannya terkadang diadakan sehari sebelum atau
sesudah tanggal itu.
Siraman Gong Kyai Pradah diadakan di Alun-alun ibukota eks kawedanan
Lodoyo yang terletak di kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Mulai beberapa
hari pelaksanaan siraman, warga mulai sibuk mempersiapkan, bahkan tak
ketinggalan pedagang-pedagang yang tak mau melewatkan momen ini untuk berjualan
di sekitar tempat acara.
Begitu populernya Siraman Gong Kyai Pradah, membuat ribuan orang mulai
bergerombolan sejak pagi hari dilaksanakannya prosesi siraman. Mereka tak hanya
datang dari kota Blitar saja. Melainkan ada yang sengaja datang dari luar kota.
Kehadiran mereka bukan sekedar berharap berkah air siraman gong yang konon
mitos nya bisa membuat orang awet muda, namun ada yang memanfaatkan acara ini
sebagai wisata budaya.
PROSESI
NAPAK TILAS
Tradisi tahunan yang digelar di Blitar setiap 1 Muharam adalah prosesi
napak tilas (jalan) dari Jugo sampai dengan Gunung Kawi. Prosesi ini dilakukan
untuk memperingati perjalanan mbah jugo ke Gunung Kawi. Di tempat ini nuansa
Tionghoa juga sangat kental.
Mbah Jugo yang bernama Raden Mas Iman Soedjono merupakan pengikut
Pangeran Diponegoro. Ketika ada peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, maka
para pengikutnya banyak yang melarikan diri, termasuk mbah Jugo bersama mbah
Sujono yang melarikan diri ke Malang. Mbah Jugo mengembara sampai daerah
Kesamben Blitar tepatnya di dusun Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben,
Kabupaten Blitar. Diperkirakan Mbah Jugo sampai di
dusun Djoego pada tahun 1840. Ia ditemani oleh sesepuh Desa Sanan yang bernama
Ki Tasiman. Kemudian Mbah Jugo bersama pengikutnya mbabat Jugo dan mendirikan
pesanggrahan di Jugo yang sekarang lebih dikenal dengan pesanggrahan mbah Jugo.
Lantas mbah Jugo bersama para pengikutya melanjutkan misinya ke Gunung Kawi,
dan menetap di sana. Bahkan hingga menghabiskan usia nya di sana. Makam nya pun
sekarang ada di Gunung Kawi.
Dahulu dikisahkan Eyang Jugo pernah ke daratan China. Suatu hari ia
bertemu dengan seorang perempuan hamil yang kehilangan suaminya. Melihat hal
ini Eyang jugo membantu ekonomi janda yang miskin ini. Sikap welas asih telah
menjadi kebiasaan Eyang Jugo. Ketiak Eyang Jugo hendak kembali ke Jawa ia
berpesan kepada janda itu demikian; Jika anak ini sudah besar, suruhlah ia
datang ke Gunung Kawi di Pulau Jawa. Anak ini bernama Tamyang. Pada tahun 40-an
datangah Tamyang ke Gunung Kawi untuk melihat makam eyang Jugo. Kedatangannya
ini dengan tujuan untuk membalas jasa Eyang Jugo yang telah berbuat baik kepada
ibunya.
Semenjak itu keduanya tidak berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi
merubah perjuangan melalui pendidikan. Selain berdakwah kepada agama Islam dan
mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam,
pengobatan, olah kanuragan serat keterampilan lainnya yang berguna bagi
penduduk setempat. Perbuatan dan karya
mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak
masyarakat dari daerah Kabupaten Malang dan Blitar datang ke Padepokan mereka
untuk menjadi pengikutnya. Untuk menghormati keduanya ini setiap tahun
para keturunan, pengikut dan peziarah berkunjung ke makam mereka tepatnya
setiap malam Jumat Legi, dan satu Suro. Di tempatnya ini biasanya diadakan
perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya.
Acara prosesi napak tilas ini sekarang bukan hanya acara untuk Juru
kunci, para pengikut dan murid nya mbah Jugo. Namun sekarang banyak yang
memanfaatkan acara ini, sepertibanyaknya warga sekitar yang berjualan berbagai
macam makanan, bahkan baju, dan peralatan rumah tangga. Oleh karena itu banyak
orang yang berbondong-bondong ke Jugo bukan hanya untuk melihat ritual-ritual
yang dilakukan sebelum pemberangkatan napak tilas atau pun mengikuti napak
tilas ke Gunung Kawi, namun juga untuk berbelanja. Saat Bulan Selo tersebut,
beberapa kesenian Tionghoa seperti barongsai pun turut menyemarakkan.
Tidak hanya warga sekitar desa Jugo yang senantiasa hadir dalam acara
napak tilas itu, bahkan orang luar desa Jugo pun seringkali hadir ke desa Jugo
pada saat 1 Muharam itu untuk melihat ritual-ritual dan napak tilas.
Tujuan mereka pun sama dengan warga yang lain, mendapat berbagai berkah
dari yang dimuliakan di petilasan ini. Seperti penglarisan, pengobatan, enteng
jodoh, hingga gampang rejeki. Bila orang-orang Jawa melakukan ritual-ritual
dalam budaya Tionghoa seperti dua orang ibu di atas, sebaliknya dengan warga
Tionghoa. Mereka juga melakukan ritual yang biasa dilakukan orang Jawa, seperti
membakar kemenyan dan sejenisnya. Menurut Arif seorang juru kunci tempat itu,
keyakinan bahwa Eyang Djugo adalah pendatang dari Tiongkok merupakan penyebab
banyaknya orang Tionghoa datang ke tempat itu. Diceritakan, semasa hidupnya
Eyang Djugo pernah pergi dan tinggal beberapa lama di Negeri Tiongkok. “Karena
itu ada yang menganggap bahwa Eyang Djugo adalah pendatang dari Tiongkok,
bahkan sebagian mengaku sebagai keturunannnya,” ungkap Arif. HK.
Pesanggrahan mbah Jugo yang terletak di dusun Jugo, desa Sanan, kecamatan
Kesamben, kabupaten Blitar hingga sekarang ini masih tetap dirawat. Bahkan juga
masih dilestarikan dengan cara memperingati atau mengenang perjalanan mbah Jugo
ke Gunung Kawi yang terkenal dengan ''Napak Tilas'' dan yang dilakukan setiap 1
Muharam.
Tradisi Ambengan
Penutup Puasa ala Masyarakat Blitar
Idul fitri selalu meriah di berbagai masjid di Blitar,Jawa Timur. Penutup
Ramadhan di daerah ini tidak hanya dirayakan dengan shalat idul fitri, tetapi
juga dimeriahkan tradisi yang sering disebut ambengan. Ambengan berasal
dari kata ambang (Jawa) yang berarti sajian makanan lengkap terdiri dari nasi
dan lauk pauk. Ambeng disedikan untuk menyuguhi tamu tu orang yang diundnng
dalam upacara syukuran.
Ambengan adalah sebutan untuk prosesi syukuran kampung setelah
shalat Idul Fitri. Syukuran ini tepatnya disebut dengan syukuran kampung.
Penamaan tradisi ambengan dilakukan mengingat ambeng yang disajikan oleh
warga dalam kegiatan tersebut.Setiap keluarga yang mampu dinjurkan untuk
membawa maknan ala kadarnya ke masjid untuk dinikmati bersama selesai proses
doa bersama.
Ritual ambengan dilakukan
secara sederhana. Selepas shalat Idul Fithri, warga kampung berbondong
berkumpul di masjid. Ritual berisi doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama
setempat. Doa bertujuan untuk "ngirim" atau mendoakan leluhur warga.
Doa dikemas dalam tahlil bersama.
Setelah pembacaan doa, ritual dilanjutkan dengan menikmati sajian yang
dibawa oleh setiap keluarga. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut serta
menikmati sajian makanan dalam ambeng. Makanan disajikan secara acak, sehingga
orang akan mendapatkan makanan yang dibawa oleh keluarga lain. Karena jumlah
makanan yang berlipat, seusai menikmati makanan secukupnya, warga akan membawa
pulang bungkusan nasi dan lauk-pauk untuk keluarga lain di rumah. Nah, biasanya
dibutuhkan keahlian untuk membungkus nasi menggunakan daun pisang. Tak jarang
banyak anak muda yang kebingungan membungkus nasi menggunakan daun pisang.
Maklum, lebih biasa menggunakan bungkus plastik atau tempat nasi yang instan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar