AKU
MENULIS LAGI, MAY BE BECAUSE OF YOU :*
Ada pesan yang tak tersampaikan.
Rasa yang tak terungkap, rindu yang
tak terjamah.
Aku memilih berjalan dalam
bayangannya, tanpa ia mengetahui. Aku memilih untuk diam-diam, menghirup udara
dimana wangi tubuhnya berada. Kadang aku menoleh ke belakang, andai saja aku
dapat memiliki mu. Kadang, dan hanya kadang aku merasa muaranya ada pada ku .
Aku ingat betul bagaimana cara ia
tertawa. Tergila-gila pada setiap suara yang tercipta. Bahkan aku mengenalinya
sebagai nada. Semuanya merdu dan mendadak seperti baru menghisap ganja dan
serasa ketagihan akan semua itu.
aku ingat betul bagaimana senyum
simpul itu beberapa kali berkelebat.
Saat aku DIAM.
Saat aku SENDIRI.
Saat jam tidurku tertunda,
lagi , lagi senyum simpul itu terbawa ke alam mimpi. aku
tak dapat mengendalikannya. Dan aku tersenyum di pagi hari nya.
Saat itu pagi yang biasa.
Pagi itu pagi yang teduh.
Tidak ada doa istimewa agar aku
dapat melihatnya sekali saja. Namun, tiba-tiba, ada sosok yang sudah ku kenal
lekat. sosok yang sudah ku hafal. sosok
yang selalu ku tunggu. aku menoleh ke belakang. Namun, seperti tidak
percaya, aku melihatnya. Ia yang biasa aku cari di setiap pagi, kecuali pagi
biasa itu. Kemudian pagi ku tak lagi
biasa.
Pagi ku PENUH WARNA.
Pagi ku BERGELORA.
Mempertanyakan kuasa semesta. aku
masih tidak percaya. Bahkan hingga saat ini.
Saat itu, siang yang menyengat lebih
ganas dari pada sengatan kumpulan lebah. Aku tersenyum dalam hati karena aku
tau, sosok itu akan ku temui lagi. Hasratku kuat untuk menghampiri dan menyapa
namun aku urungkan niat itu.
aku hanya melihatnya dari jarak yang
dekat namun menyakitkan. aku berpikir, "AKAN
KUCOBA LAGI NANTI, SAAT AKU KEMBALI, ATAU MUNGKIN LAIN KALI ".
Langkah ku secara perlahan ku seret
menjauh. Namun, hatiku berat. Tak cukup rasanya bila tak mengucap setidaknya
satu kosa kata sederhana. Dan aku akhirnya mengucapkannya, walau hanya dalam
hatiku saja. AKU MERINDUKAN SOSOK ITU, namun tubuhku melangkah untuk
berpaling.
Hatiku tak puas. Pandanganku ku torehkan ke belakang, ke arahnya. Aku
berharap sekali lagi saja, memotretnya dengan kedua mataku. Dan sosok itu
datang, sorot matanya menemukanku. Dan senyumku yang ringan pun tersimpul. Dan
siang itu tak lagi seganas lebah. Siraman sinar mentari, seperti air yang
mengalir dan menggugah. Segar, Mengguyur hingga basah kuyup.
Saat itu senja yang polos. Senja
yang mendamaikan hati seiring langkahku.
Rasa ingin bertemu. Rasa yang
menyeruak. aku menahannya sekuat tenaga. Langkahku mengayun pelan. aku katakan
pada hati ku "BERSABARLAH".
Langkahku menyusuri anak tangga itu
satu persatu. Lalu sampai diatas. aku tersenyum dalam hati. sosok itu sangat
dekat, sangat lekat. Dan aku melihatnya. Dadaku berhembus lega seperti baru
menahan nafas jutaan tahun lamanya. Ia mengucap beberapa kata. Sorotnya tak
surut memandangku. Sorot itu masih menuju padaku. aku membalas ala kadarnya,
karena aku sibuk menahan gejolak hati yang meledak berontak. Hatiku yang
berteriak ingin menggapainya, lalu menyimpan aroma tubuhnya yang lebih kuat
menyanduku daripada ganja. Untungnya tak aku lakukan. Tingkahnya yang kikuk
terbaca. Sungguh gejolak itu tak ingin
tertahan lebih lama lagi, untungnya beberapa saat kemudian ia melangkah
pergi. Melewatiku yang setengah terpaku. Walau mungkin ia tak menyadari bahwa
akupun sama kikuknya beberapa saat tadi.
Dan untuk yang kesejuta kali tersirat
di otak ku
AKU DAN
DIA.
Dalam situasi yang lebih sederhana.
Dalam situasi penuh kendali. Dalam situasi tak terbatasi.
Aku Dan
Dia Saja.
Walau sekali lagi saja, bersama,
merasakan hal yang sama.
ooeeehh,,,, editane jan sippzz ndut,,,,
BalasHapusjelas dong. :D
Hapusaku lo ya puitis :D
ieeuuuhhh,,, maleh GR ki,,, :D
Hapus