Minggu, 06 April 2014

Malaikat Kecil Untuk Sang Bunda

Malaikat Kecil Untuk Sang Bunda
Oleh : Ucik Fitri Handayani

      Aldi Mahendra adalah seorang siswa SD Bunga Bangsa kelas 4 yang akrab disapa Hendra. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana dan serba kekurangan. Bahkan sekarang ia hanya tinggal bersama Ibunya. Ayahnya meninggal sejak Hendra duduk di bangku SD kelas 1 karena penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuh Hartanto. Sekarang Hendra dan Ibunya tinggal di gubuk tua yang reot, beralaskan tanah, dan berdindingkan bambu peninggalan ayahnya yang terletak di desa terpencil dan sangat kumuh. Gubuk itu akan bocor tiap kali musim hujan datang. Tiap malam pun Hendra dan Ibunya pasti kedinginan, karena tak ada yang dapat menghangatkan tubuhnya di kala mereka diserang hawa dingin. Namun, keadaan Hendra yang pas-pasan dan serba kekurangan, tidak menyurutkan niat Hendra untuk meraih semua impiannya menjadi orang yang sukses serta dapat membanggakan  kedua orang tuanya.
      Hendra telah mengantongi segudang prestasi, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Terbukti dengan jutaan prestasi yang pernah diraihnya sejak ia duduk di bangku TK hingga kini ia duduk di bangku SD.  Peringkat 1 selalu bersarang di raportnya selama ini. Bahkan juara 1 selalu ia raih dalam berbagai lomba yang diikutinya. Mulai dari lomba cerdas cermat tingkat SD hingga kini ia meraih juara 1 olimpiade matematika nasional tingkat SD. Bahkan bulan november lalu ia meraih juara 1 lomba karate nasional. Semua prestasinya yang gemilang, pasti tidak luput dari segala usaha yang ia lakukan dan do'a yang selalu ia panjatkan setiap harinya. Apalagi ketulusan do'a Ibu yang selalu menyertai kemana pun kakinya akan melangkah.

***

      Murtini sangat bangga kepada Hendra, atas semua prestasi yang telah diraih anaknya itu.
"Andai saja bapakmu masih ada Nak, pasti beliau akan bangga melihat anak kesayangannya dapat meraih prestasi-prestasi sebanyak ini." kata Murtini sambil menangis.
"Sudah Bu, jangan menangis, bapak di sana juga pasti sudah tahu. Hendra berjuang untuk mencapai semua impian Hendra karena amanat yang bapak katakan sebelum bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Jadi, Hendra yakin, kalau saat ini bapak juga merasa sangat bangga melihat Hendra bisa meraih impian-impian Hendra." sahut Hendra.
      Walaupun Hendra memiliki segudang prestasi yang membanggakan, namun ia tidak mempunyai segudang uang untuk membiayai sekolahnya. Ia merasa kesulitan untuk membiayai semua kebutuhan sekolah. Jangankan untuk membayar IPP, untuk membeli perlengkapan sekolah seperti seragam, sepatu, tas, dan buku-buku pun Hendra sangat kesulitan. Ibunya harus mencari pinjaman uang sana sini untuk memenuhi kebutuhan sekolah Hendra.

      Sebentar lagi ujian sekolah akan diselenggarakan. Semua tunggakan biaya harus dilunasi. Jika tidak dilunasi, maka siswa tidak boleh mengikuti ujian bahkan akan dikeluarkan dari sekolah.  Hendra tidak mempunyai cukup uang untuk melunasi semua tunggakan biaya sekolahnya. Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan hanya mampu bekerja sebagai buruh rumah tangga, dan sebagai buruh di pasar. Penghasilannya pun cukup sedikit. Jangankan untuk melunasi tunggakan biaya sekolah, untuk makan setiap hari saja mereka harus susah payah dan membanting tulang untuk mencari uang.

       Murtini bingung dan gelisah harus bekerja apa lagi agar mendapatkan uang sebanyak itu serta bisa melunasi tunggakan biaya sekolahnya Hendra. Sejak suaminya yang tercinta Hartanto meninggal dunia 3 tahun yang lalu, Murtini dan Hendra semakin kesulitan dalam mencari uang untuk biaya hidup dan sekolah Hendra. Tidak tanggung-tanggung Murtini pun bekerja sebagai kuli toko. Barang-barang berat pun biasa ia angkat, pekerjaan berat pun biasa ia lakukan. Meskipun keadaan Murtini yang sudah tua dan sakit-sakitan, namun semangat dan kekuatannya pun dapat melebihi laki-laki. Semua ini, ia lakukan hanya demi anak semata wayangnya yaitu Hendra. Agar ia dapat melunasi semua tunggakkan biaya sekolahnya Hendra dan agar Hendra dapat mengikuti ujian, tidak dikeluarkan dari sekolahnya.
***
      Hari demi hari pun uang terkumpul. Namun, alhasil semua perjuangan Murtini pun belum cukup untuk melunasi tunggakkan itu. Mengumpulkan uang 3 juta dalam waktu sesingkat ini sangat mustahil didapatkan Murtini.
"Ya Allah, harus kemana lagi hamba mencari uang? 3 juta bukan jumlah uang yang sedikit. Ya Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, berikanlah petunjukMu, mudahkanlah jalanku untuk mencapai RezekiMu." do'a Murtini ketika ia sholat.

      Setiap pagi Murtini hanya dapat menghidangkan singkong rebus di atas meja makan sebagai pengisi perut sang buah hati di kala ia hendak pergi ke sekolah.
"Hendra, ayo dimakan Nak singkong rebusnya." kata Murtini dengan penuh kasih sayang.
"Iya Bu, ibu tidak makan singkong rebus juga ?" tanya Hendra kepada ibunya.
"Tidak Nak, ibu sudah kenyang, Hendra saja yang makan singkong rebusnya." sahut Murtini sambil batuk-batuk.
Padahal Murtini dari kemarin siang belum makan sama sekali. Murtini rela tidak mengisi kekosongan perutnya demi Hendra.

***

      Ketika pulang sekolah kehidupan Hendra tidak seperti teman-temannya yang selalu disambut orang tua nya. Ia pulang ke gubuknya yang selalu kosong karena ibunya sedang pergi untuk mencari uang. Untuk membantu biaya hidup dan biaya sekolahnya, Hendra juga bekerja sebagai pengamen jalanan di jalan-jalan raya. Terik matahari dan guyuran hujan tak pernah ia hiraukan, ia tetap berusaha menyusuri jalan raya untuk mendapatkan sepeser uang. Walaupun hasilnya tak seberapa, Hendra berharap berapapun uang yang ia dapatkan dapat membantu kesulitan yang membelenggu kehidupannya.

      Kian hari sakit yang diderita Murtini kian parah. TBC yang dialaminya kian mencapai tahapan yang serius. Murtini tidak bisa berobat karena tak ada biaya untuk berobat. Semua uang yang kini ia kumpulkan, hanya untuk biaya sekolah Hendra. Hendra sebagai anak yang sangat menyayangi Ibunya tidak tega melihat ibunya tiap hari bekerja untuk mencari uang dalam keadaan sakit. Hendra memutuskan untuk menggunakan uang yang selama ini terkumpul untuk biaya berobat Ibunya. Dan akhirnya kini Hendra menunda untuk membayar tunggakkan biaya sekolahnya.
"Nak maafkan ibu ya, gara-gara ibu sakit, uang yang selama ini kita kumpulkan dan yang seharusnya untuk melunasi uang sekolah Hendra, malah digunakan untuk biaya berobat ibu."
"Tak apa Bu, Hendra lebih baik tidak sekolah saja, daripada Hendra harus melihat ibu banting tulang untuk mencari biaya sekolah Hendra dalam keadaan sakit begini. Hendra tidak tega melihat ibu sakit begini. Lebih baik Hendra yang sakit Bu, daripada harus ibu yang sakit." Jawab Hendra.
     Hendra tak pernah mengeluh dengan keadaannya yang seperti ini. Keadaan yang mengharuskannya dewasa sebelum waktunya. Teman-teman sebayanya tiap pulang sekolah, selalu bermain bersama. Namun berbeda dengan Hendra. Ia harus mengamen di pinggir jalan untuk mencari uang.  Sepulang ngamen, ia harus merawat Ibunya hingga larut malam yang sedang terbaring lemah di rumah. Sering kali Hendra ketiduran di kelas, karena ia kelelahan dengan semua pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan oleh anak seusianya.

***

      Pagi ini seperti biasanya Murtini sudah menghidangkan singkong rebus di atas meja makan untuk menu sarapan Hendra. Cuaca kali ini tidak terlalu bersahabat dengan Hendra karena sedang turun hujan. Hingga Hendra harus menunggu sampai hujan reda. Di sela-sela ia makan singkong rebus sang ibu berkata ”Nak, sudahlah jangan fikirkan ibu, ibu di sini tidak apa-apa. Fokuslah pada sekolahmu Nak."
"Bu, bagaimana aku bisa fokus dengan sekolahku, sedangkan ibu sakit begini ? Hendra di sekolah selalu memikirkan ibu." jawab Hendra dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah Nak, sudah. Ibu nanti juga sembuh sendiri, sekarang Hendra pergi ke sekolah dulu ya ? Sudah siang."
"Iya Bu, ibu cepat sembuh ya ? Hendra berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum." sahut Hendra sambil berpamitan dan mencium tangan ibunya.
"Iya Nak, belajar yang rajin ya. Do'a ibu hanya untuk Hendra." jawab Murtini

      Dengan seragam merah putih yang telah berubah warna menjadi putih tulang serta kusut, Hendra menelusuri jalan setapak menuju sekolah yang penuh dengan genangan air akibat hujan. Sesampainya di sekolah, Hendra langsung dipanggil Kepala Sekolah yaitu Pak Heri. Hendra sudah mengira, Pak Heri pasti akan menagih tunggakan biaya yang belum bisa Hendra bayar, dan akhirnya nanti Hendra tidak bisa mengikuti ujian bahkan Ia berfikir kalau nanti ia akan di keluarkan dari sekolah.
Dengan langkah yang ragu-ragu Hendra berjalan menuju ruang kepala sekolah. Sebelum mengetok pintu Hendra menarik nafas dengan panjang dan berdo’a supaya tidak terjadi apa-apa.
"Thok…thok…thok…" suara pintu yang diketuk Hendra
"Iya… silahkan masuk" jawab suara dari dalam ruangan
Kemudian Hendra dengan jantung yang berdetak kencang mempercepat langkahnya menuju tempat duduk yang berada di depan Pak Heri
"Hendra, bagaimana dengan tunggakan biaya sekolahmu ?" tanya Pak Heri dengan sikap bijaksananya.
"Maaf  Pak, Hendra belum bisa membayarnya. Ibu Hendra sakit, dan uang yang tadinya Hendra dan ibu kumpulkan untuk membayar tunggakkan sekolah, sudah digunakan untuk biaya berobat ibu. Ibu sekarang tergolek lemah di rumah pak, ibu tidak bisa bekerja untuk mencari uang lagi. Jadi sekarang Hendra yang mencari uang dengan mengamen di jalanan. Jika Pak Heri ingin mengeluarkan Hendra, tidak apa-apa Pak. Hendra tahu dan sadar, karena Hendra tidak bisa membayar tunggakkan biaya sekolah Hendra. Di zaman yang serba modern seperti ini mana ada sekolah gratis tanpa biaya sepeser pun." jawab Hendra
"Kamu salah Hendra, bapak disini akan memberi kabar bahagia ke kamu. Kamu mendapatkan beasiswa atas prestasi-prestasi yang telah kamu raih hingga sekarang ini. Jadi, semua biaya sekolah kamu akan gratis hingga kamu lulus SD."
"Haaa … ?? Apa Pak ? Hendra tidak salah mendengar ? Hendra dibebaskan dari semua biaya sekolah?" tanya Hendra sambil melongo.
"Iya Hendra. Sampaikan kabar gembira ini kepada ibumu ya." sahut Pak Heri sambil tersenyum mengiringi kebahagiaan Hendra.
"Iya Pak pasti. Terimakasih ya Pak." jawab Hendra dengan perasaan yang riang gembira, sambil mencium tangan Pak Heri dan keluar dari ruangan Pak Heri.
      Hati Hendra sangat senang mendengar kabar gembira yang disampaikan Pak Heri. Hendra keluar dari ruangan Pak Heri dengan jingkrak-jingkrak. Dan Hendra sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Ibunya.
***
      Terik matahari kian mencapai ubun-ubun. "kriingg....krriingg....kriinggg"
      Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Hendra dan teman-temannya pun segera pulang. Hendra sudah tak sabar ingin bertemu ibunya di rumah dan menyampaikan kabar gembira dari Pak Heri tadi pagi. Hendra pun berlari menuju rumah.

Hendra pun sampai di rumah. "thok...thokk..thok.. Assalamu'alaikum"
"Ibu,, Hendra pulang Bu, bukakan pintunya"
"Bu,,Bu,,Ibu." teriak Hendra dari luar rumah sambil menggedor-nggedor pintu rumah yang telah rapuh.
Tak seorang pun yang menjawab salam Hendra. Pintu rumah pun langsung dibuka secara perlahan oleh Hendra.
"Ibu, Hendra bawa kabar gembira Bu. Ibu di mana ?" teriak Hendra sambil mencari ibunya

Tanpa sepengetahuan Hendra, ibunya telah tergeletak di atas ranjang dengan keadaan sudah tak bernafas lagi.

      Hendra pun tetap mencari keberadaan ibunya. Dan akhirnya Hendra melihat ibunya yang telah tergeletak lemah dan tak berdaya di atas ranjang dengan mata tertutup. Badan Murtini telah terbujur kaku. Hendra pun kaget. "Bu, Ibu kenapa ? Bangun Bu. . " tanya Hendra sambil memeluk erat ibunya yang tergeletak. Tak ada seucap kata pun yang dapat terlontar dari mulut Murtini yang telah membisu. Seketika itu air mata Hendra tidak dapat terbendung lagi. Hendra pun menyadari bahwa ibunya telah meninggal dunia.

      Melihat ibunya yang telah tak bernyawa lagi di pembaringan rumahnya, Hendra pun menangis tersedu-sedu tanpa terhenti. Tadinya Hendra ingin memberitahu kabar baik dari sekolah, namun apa daya. Semua terjadi tanpa terduga. Dengan tidak sengaja, Hendra pun melihat secarik kertas terlipat rapi yang ada di atas meja sebelah ranjang ibunya. Hendra pun membuka kertas itu secara perlahan dengan tangis yang terus membanjiri pipinya, dan membaca untaian kata yang tertulis di dalamnya.

Hendra, Anakku sayang.
      Maafkan ibu jika selama ini ibu belum bisa memberikan yang terbaik untuk Hendra. Ibu belum dapat memberikan kehidupan yang layak seperti teman-teman Hendra yang lain. Ibu tidak dapat memberikan semua yang Hendra inginkan. Ibu sangat bangga sekali dengan Hendra karena Hendra sudah menjadi anak yang sangat berbakti kepada orang tua, dan menjadi anak yang membanggakan orang tua. Ibu bangga sekali dengan prestasi-prestasi yang Hendra raih selama ini. Kejar terus cita-citamu Nak, raih semua impianmu. Jangan lupa sholat dan terus berdo'a ya Nak. Do'a Ibu hanya untukmu Nak. Kaulah malaikat kecil yang sengaja Allah kirimkan untuk menemani ibu di akhir hayat ibu. Tetap jadilah malaikat kecil di kalbu ibu walaupun ibu sudah tak ada disampingmu.



Tanpa tersadar, butir-butir air mata pun jatuh lagi membasahi pipi Hendra. Tangisan Hendra pun mengantar kepergian Ibunya hingga ke pemakaman. Sejak saat itulah Hendra menjadi anak yatim piatu. Keinginan kedua orang tuanya menjadi motivator terkuat dalam diri Hendra untuk tetap berusaha, berjuang, dan berdo'a menjadi seseorang yang sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar